Pengambilan Keputusan Terberat Dalam
Hidup.
Assallamualaikum Warohmatullohi Wabarakattuh.
Dalam kesempatan kali ini saya
ingin menulis tentang pengambilan keputusan terberat yang pernah terjadi dalam
hidup saya. Semua orang pasti pernah mengalami pengambilan keputusan yang
paling sulit dalam hidupnya. Karena keputusan yang nantinya akan menjadi
pilihan akan berpengaruh besar untuk masa yang akan datang.
Saya sendiri pun pernah mengalaminya.Keputusan
tereberat yang pernah saya alami adalah saat saya ingin masuk ke jenjang yang
lebih tinggi yaitu masuk ke perguruan tinggi. Di sini saya harus berperang
pendapat dengan orang tua saya. Karena orang tua pasti selalu ingin yang
terbaik untuk anaknya, apalagi ini untuk masa depan anaknya. Disaat itu saya
merasa kesal dengan diri saya sendiri, saya sedih karena kebodohan saya sendiri
karena saya tidak bisa lulus dalam SNMPTN Undangan 2012. Karena kegagalan saya
itu, lalu ayah saya memberikan pendapat untuk masuk ke perguruan tinggi swasta saja,
kebetulan saat itu saya juga mendapatkan undangan beasiswa dari Universitas Gunadarma.
Tapi entah mengapa saya selalu ingin menjadi mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri
(PTN), karena dulu pikiran saya masih terlalu labil saya berfikir PTN itu selain
biaya kuliahnya yang terjangkau dengan pendapatan orang tua saya, nama label
PTN selalu dipandang baik dengan masyarakat. Saat itu saya menuruti pendapat
ayah saya untuk medaftar terlebih dahulu ke Universitas Gunadarma. Saat itu
ayah saya sudah melakukan transaksi untuk pembayaran di kampus saya sekarang
ini, tetapi hati saya masih belum stabil dan berkecamuk untuk tetap ingin
mencoba lagi masuk PTN dengan jalur SNMPTN Ujian Tulis 2012, tetapi saya
berfikir lagi jika saya ikut SNMPTN Ujian Tulis bagaimana bisa, karena saat itu
saya tidak mengikuti les intensif atau semacamnya seperti teman-teman saya yang
sibuk les intensif sana-sini sampai pulang sore. Sampai dirumah setelah
pembayaran pendafaran di UG saya bilang ke ayah saya kalau saya ingin ikut
SNPMTN Ujian Tulis. Lalu ayah saya merespon dengan ekspresi seperti tidak
setuju “Loh kamu itu bagaimana? Barusan sudah dibayar uang muka di Gunadarma,
kenapa sekarang berubah pikiran lagi mau ikut SNMPTN Ujian Tulis?” kata ayah
saya. Tetapi saat itu saya ingin sekali masuk ke salah satu perguran tinggi
negeri di kota Bogor, dan ayah saya juga tau kalau anaknya ingin sekali masuk
ke PTN di kota Bogor tersebut, karena sebelumnya saya sudah gagal masuk ke PTN
di kota Bogor tersebut melalui jalur SNMPTN Jalur Undangan, saya tetap ingin
mencoba lagi masuk ke PTN tersebut. Lalu ayah saya pun menyetujui saya ikut
SNMPTN Ujian Tulis 2012. Keesokannya pun ayah saya membelikan saya buku
intensif SNMPTN untuk bekal tempur saya di SNPMTN Ujian Tulis. Dalam pengisian form SNPMTN Ujian Tulis 2012 saya
memilih Ilmu Komunikasi IPB (Institut Pertanian Bogor) untuk prodi 1 dan FMIPA
UNILA (Universitas Negeri Lampung) untuk prodi 2 . Dengan sedikit bekal,
akhirnya saya menjalani SNMPTN Ujian Tulis 2012 dengan semaksimal kemampuan
saya selama 2 hari. Akhirnya waktu
pengumuman hasil SNMPTN Ujian Tulis 2012 tiba, saat itu pengumuman harus
dilihat melalui website SNMPTN, tetapi saat itu selalu bad connection karena terlalu banyak orang yang membuka situs
website SNPMTN. Dengan susah payah saya membuka situ website SNMPTN tersebut,
akhirnya saya bisa melihat hasil SNMPTN saya. “Selamat Anda Lulus SNMPTN Ujian
Tulis 2012” membaca kalimat tersebut membuat saya senang, hanya saja saya masuk
di prodi ke-2 yaitu FMIPA UNILA. Segera saya memberi tahu ke ayah saya kalau
saya lolos SNMPTN, hanya ayah saya kurang setuju karena saya lulus di prodi 2
yaitu di Unila, Ayah saya kurang setuju karena itu di luar kota dan seberang
pulau. Tetapi karena saya terlalu gegabah saya tetap ingin melanjutkan langkah
saya untuk ke Unila karena saya sudah lolos SNMPTN kenapa harus di sia-siakan,
lagi pula di Lampung ada nenek dan keluarga dari ibu saya walaupun tidak dekat
dengan kampus Unila. Akhirnya saya mengikuti serangkaian langkah pendaftaran di
Unila dengan ditemani paman saya karena ayah saya tidak bisa menemani saya
melakukan pendaftaran seperti saat pendaftaran di UG sebab saat itu ayah saya
sedang tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Tetapi saat di Lampung ayah saya
setiap hari selalu menelfon dan sms saya untuk tetap pilih kuliah di UG saja
karena dekat rumah dan keluarga. Sampai pernah ayah saya mengirim sms ke saya
dengan kata-kata yang membuat saya menangis dan membuat saya galau. Saat di
Lampung saya selalu ingat dengan wajah ayah saya dan selalu memikirkan ayah
saya. Sampai jika saya selesai sholat dan berdoa pun yang terlintas pun wajah
ayah saya saat beliau pulang kerja. Karena saat itu sedang bulan Ramadhan saya
pulang ke Bekasi. Saat di Bekasi pun ayah saya menasihati lagi untuk lebih baik
kuliah di Bekasi saja biar dekat dengan keluarga, ayah juga bilang “kalau kuliah
disini kan makan enggak makan tetap kumpul sama keluarga” . Saat itu saya makin
entah harus pilih dimana untuk kuliah, karena ini menentukan masa depan saya. Sungguh
ini adalah situasi tersulit untuk memilih, lebih sulit dari soal-soal SNMPTN
yang pernah saya kerjakan. Kalau saya pilih Unila, uang pendaftaran di UG akan
kembali hanya saja dipotong sekitar 20% dan jika saya pilih UG , seluruh uang
pendataran di Unila hangus, tetapi nominalnya sama dengan potongan 20% di UG. Jadi
saya berfikir sama ruginya kalau saya pilih salah satunya. Lalu akhirnya saya
memutuskan untuk pilih di UG, selain masukkan dari ayah , saya pun juga dapat
masukkan dari teman-teman terdekat saya untuk tetap kuliah di Bekasi saja.
Akhirnya saya pun memilih untuk mengikuti ayah saya yaitu kuliah di Universitas
Gunadarma jurusan Sistem Informasi dan membatalkan kuliah di Unila. Saya pun
tidak tahu sebenarnya apa yang dipelajari di jurusan SI. Secara basic pun saya
minim dalam ilmu komputer karena saya berasal dari SMA jurusan IPA. Tapi saya
selalu ingat orang tua dan Allah sebagai sumber kekuatan saya dan motivasi saya
kalau saya pasti bisa walaupun saya harus keluar dari comfort zone jurusan saya. Dan alhamdulillah sampai saat ini kuliah
saya lancar walaupun ada sedikit hambatan tapi saya jadikan hambatan tersebut
batu kerikil kecil. Dan sekarang saya berfikir, kesuksesan seseorang bukan
karena PTS ataupun PTN tapi itu berasal dari diri kita sendiri. Enggak semua
PTN itu bagus dan berakreditasi sangat baik , dan enggak semua PTS itu enggak
bagus dan berakreditasi buruk.
Cukup sekian tulisan saya kali
ini tentang pengambilan terberat dalam hidup saya. Setiap manusia pasti pernah
mengalami masalah tersebut, hanya saja cara memecahkan masalahnya yang berbeda.
Mohon maaf apabila ada salah kata, karena manusia adalah tempatnya salah.
Wassallamualaikum Warohmattullohi
Wabarakattuh...