INOVASI
KTX ( KOREAN TRAIN EXPRESS)
KISRUH politik di Korea Selatan tidak
menyurutkan semangat negeri itu dalam mewujudkan diri sebagai Macan Asia di
bidang ekonomi maupun inovasi teknologi. Kendati parlemen telah memosi tidak
percaya Presiden Roh Moo-Hyun, sebuah pesta digelar Selasa (29/3) kemarin untuk
menandai bahwa Negeri Ginseng itu telah memiliki kereta supercepat sekaligus
awal terciptanya transportasi antarbenua, Eropa-Asia.
Sebuah
proyek senilai 14 trilyun won (12 milyar dolar AS) dikerjakan selama 12 tahun.
Kendati sempat tersendat-sendat akibat krisis ekonomi yang menimpa Asia pada
1997, Korsel berhasil menyelesaikan pembuatan kereta api peluru KTX (Korea
Train Express) beserta jaringannya.
Kereta
api yang melayani jalur Seoul-Busan mampu meluncur dengan kecepatan 300 km per
jam. Kendati warga baru bisa menikmati jasa layanan transportasi berteknologi
tinggi pada 1 April besok, mereka yakin jarak antara Seoul-Busan di tenggara
dan Mokpo di barat daya dapat ditempuh dalam waktu singkat dan nyaman.
"Kecepatan
berarti kompetisi yang lebih baik. KTX Seoul-Busan merupakan sebuah simbol
bangsa yang kompetitif dan batu loncatan menuju kemakmuran di abad ke-21,"
jelas presiden sementara Goh Kun dalam upacara pembukaan. "Kita akan
mengalami berbagai keuntungan dengan keberadaan kereta api super cepat ini bagi
gaya hidup kita serta perekonomian pula," tambahnya.
Kereta
api peluru ini merupakan proyek masa depan Korsel. Proyek tersebut melengkapi
pembangunan jalur bebas hambatan dari Seoul menuju Busan sejauh 428 km. Jalur
yang menuju ke arah selatan itu, dirancang pertama kali pada 1970.
Namun,
selama tiga dekade kemudian, Korsel menyadari bahwa biaya transportasi darat
itu mempunyai nilai signifikan dalam perekonomian yakni mendekati 4 persen dari
Produk Domestik Bruto. Kereta api supercepat itu dinilai sebagai salah satu
solusinya.
Kim
Se-Ho, Kepala Jaringan Kereta Api Nasional Korea (KRN) (KNR), menjelaskan KTX
memberi perubahan revolusioner bagi logistik dan kehidupan warga. "Dengan
memadukan KTX dengan kepentingan-kepentingan transportasi lainnya, Anda dapat
menuju ke mana saja di negeri ini dalam waktu kurang dari setengah hari,"
jelasnya sambil menunjuk contoh lain yakni TGV di Prancis.
Di
sisi lain, keberhasilan Korsel dalam proyek KTX itu juga mewujudkan ambisi
Seoul menghubungkan negeri Ginseng itu dengan Eropa lewat perjalanan darat.
Perjalanan panjang lintas benua itu memang masih dalam perencanaan, namun
sedikit demi sedikit terwujud. "Mimpiku adalah bepergian ke Pyongyang
(Kore Utara), menyeberangi Siberia dan menuju Eropa dengan kereta api
supercepat," ungkap Kim.
Goh
menambahkan KTX akan menjadi awal terwujudnya Iron Silkroad yakni saat jalur
KTX tersebut terhubung dengan jaringan kereta api trans Siberia (TSR) dan trans
Cina (TCR).
Otoritas
KTX menjelaskan jaringan itu secara fisik hampir terhubung. Namun, sejak
ketegangan di Semenanjung Korea seputar ambisi nuklir Pyongyang serta
alasan-alasan nonkomersial lainnya, integrasi itu tertunda untuk sementara
waktu.
Singkat
dan Cepat
Perubahan
mendasar pun bisa dilihat pada gaya hidup warga. Warga Seoul bisa keluar kota
dengan cepat untuk mencari udara segar dan pemandangan baru di pedesaan.
Sementara warga di propinsi-propinsi bisa berbelanja ke kota dengan cepat atau
menikmati pertunjukan seni di Seoul, tambah Kim.
Goh
melanjutkan KTX memberikan kontribusi pada pengurangan jarak antara kota dan
propinsi-propinsi yang belum berkembang. "Komuter hanya memerlukan waktu
49 menit untuk menempuh perjalanan dari Seoul ke Daejeon atau sebaliknya. Jarak
sepanjang 160 km, biasanya ditempuh oleh pengendara mobil lebih dari satu
jam," katanya.
KTX
dapat menempuh jarak dari Seoul dan Busan sepanjang 428 km dalam waktu 160
menit. Waktu tempuh itu sedikit lebih panjang karena kereta modern itu harus
memasuki rel konvensional di beberapa tempat, sehingga laju kecepatan kereta
terpaksa diturunkan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Bila
dibandingkan dengan kereta biasanya, terdapat perbedaan signifikan. Kereta
konvensional membutuhkan waktu 240 menit untuk menempuh perjalanan Busan-Seoul.
Nantinya
jalur kereta itu akan diganti dengan yang baru. Pemerintah menargetkan
penggantian itu akan selesai pada 2010 sehingga waktu tempuh Seoul-Busan bisa
diperpendek menjadi 116 menit.
KRN
memprediksi selama tahun pertama penggunaan KTX, akan menarik penumpang
sebanyak 180 ribu per hari, sehingga kereta-kereta tua satu demi satu
dipensiunkan untuk transportasi penumpang dan dialihkan untuk kargo. KRN
bekerja sama dengan kelompok energi dan transportasi Alstom, mengimpor
teknologi kereta api dari Prancis itu dan merancang model terbaru yang diberi
nama G7. Diharapkan G7 tersebut bisa diekspor ke manca negara.
Untuk
KTX, KRN akan mengoperasikan 46 unit. 12 di antaranya diimpor langsung dari
Alstom dan 34 lainnya dirakit di Korea. Proyek tersebut merupakan hasil kerja
sama yang ditandatangani pada 1994 antara Korsel dan Alstom. Perusahaan Prancis
itu mengalahkan rivalnya Siemens (Jerman) dan Mitsubishi (Jepang) untuk
memenangkan kontrak transportasi tersebut. "Saya yakin TGV di Korea ini
akan meraih sukses secara teknis, komersial dan finansial. Dalam waktu yang tak
lama, Korea akan meningkatkan kapasitasnya," jelas direktur teknis
Tranportasi Alstom, Francois Lacote.
