Sabtu, 21 Juni 2014

TUGAS TEORI ORGANISASI UMUM ( MINGGU 4 )

INOVASI KTX ( KOREAN TRAIN EXPRESS)


KISRUH politik di Korea Selatan tidak menyurutkan semangat negeri itu dalam mewujudkan diri sebagai Macan Asia di bidang ekonomi maupun inovasi teknologi. Kendati parlemen telah memosi tidak percaya Presiden Roh Moo-Hyun, sebuah pesta digelar Selasa (29/3) kemarin untuk menandai bahwa Negeri Ginseng itu telah memiliki kereta supercepat sekaligus awal terciptanya transportasi antarbenua, Eropa-Asia.
Sebuah proyek senilai 14 trilyun won (12 milyar dolar AS) dikerjakan selama 12 tahun. Kendati sempat tersendat-sendat akibat krisis ekonomi yang menimpa Asia pada 1997, Korsel berhasil menyelesaikan pembuatan kereta api peluru KTX (Korea Train Express) beserta jaringannya.
Kereta api yang melayani jalur Seoul-Busan mampu meluncur dengan kecepatan 300 km per jam. Kendati warga baru bisa menikmati jasa layanan transportasi berteknologi tinggi pada 1 April besok, mereka yakin jarak antara Seoul-Busan di tenggara dan Mokpo di barat daya dapat ditempuh dalam waktu singkat dan nyaman.
"Kecepatan berarti kompetisi yang lebih baik. KTX Seoul-Busan merupakan sebuah simbol bangsa yang kompetitif dan batu loncatan menuju kemakmuran di abad ke-21," jelas presiden sementara Goh Kun dalam upacara pembukaan. "Kita akan mengalami berbagai keuntungan dengan keberadaan kereta api super cepat ini bagi gaya hidup kita serta perekonomian pula," tambahnya.
Kereta api peluru ini merupakan proyek masa depan Korsel. Proyek tersebut melengkapi pembangunan jalur bebas hambatan dari Seoul menuju Busan sejauh 428 km. Jalur yang menuju ke arah selatan itu, dirancang pertama kali pada 1970.
Namun, selama tiga dekade kemudian, Korsel menyadari bahwa biaya transportasi darat itu mempunyai nilai signifikan dalam perekonomian yakni mendekati 4 persen dari Produk Domestik Bruto. Kereta api supercepat itu dinilai sebagai salah satu solusinya.
Kim Se-Ho, Kepala Jaringan Kereta Api Nasional Korea (KRN) (KNR), menjelaskan KTX memberi perubahan revolusioner bagi logistik dan kehidupan warga. "Dengan memadukan KTX dengan kepentingan-kepentingan transportasi lainnya, Anda dapat menuju ke mana saja di negeri ini dalam waktu kurang dari setengah hari," jelasnya sambil menunjuk contoh lain yakni TGV di Prancis.
Di sisi lain, keberhasilan Korsel dalam proyek KTX itu juga mewujudkan ambisi Seoul menghubungkan negeri Ginseng itu dengan Eropa lewat perjalanan darat. Perjalanan panjang lintas benua itu memang masih dalam perencanaan, namun sedikit demi sedikit terwujud. "Mimpiku adalah bepergian ke Pyongyang (Kore Utara), menyeberangi Siberia dan menuju Eropa dengan kereta api supercepat," ungkap Kim.
Goh menambahkan KTX akan menjadi awal terwujudnya Iron Silkroad yakni saat jalur KTX tersebut terhubung dengan jaringan kereta api trans Siberia (TSR) dan trans Cina (TCR).
Otoritas KTX menjelaskan jaringan itu secara fisik hampir terhubung. Namun, sejak ketegangan di Semenanjung Korea seputar ambisi nuklir Pyongyang serta alasan-alasan nonkomersial lainnya, integrasi itu tertunda untuk sementara waktu.
Singkat dan Cepat
Perubahan mendasar pun bisa dilihat pada gaya hidup warga. Warga Seoul bisa keluar kota dengan cepat untuk mencari udara segar dan pemandangan baru di pedesaan. Sementara warga di propinsi-propinsi bisa berbelanja ke kota dengan cepat atau menikmati pertunjukan seni di Seoul, tambah Kim.
Goh melanjutkan KTX memberikan kontribusi pada pengurangan jarak antara kota dan propinsi-propinsi yang belum berkembang. "Komuter hanya memerlukan waktu 49 menit untuk menempuh perjalanan dari Seoul ke Daejeon atau sebaliknya. Jarak sepanjang 160 km, biasanya ditempuh oleh pengendara mobil lebih dari satu jam," katanya.
KTX dapat menempuh jarak dari Seoul dan Busan sepanjang 428 km dalam waktu 160 menit. Waktu tempuh itu sedikit lebih panjang karena kereta modern itu harus memasuki rel konvensional di beberapa tempat, sehingga laju kecepatan kereta terpaksa diturunkan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Bila dibandingkan dengan kereta biasanya, terdapat perbedaan signifikan. Kereta konvensional membutuhkan waktu 240 menit untuk menempuh perjalanan Busan-Seoul.
Nantinya jalur kereta itu akan diganti dengan yang baru. Pemerintah menargetkan penggantian itu akan selesai pada 2010 sehingga waktu tempuh Seoul-Busan bisa diperpendek menjadi 116 menit.
KRN memprediksi selama tahun pertama penggunaan KTX, akan menarik penumpang sebanyak 180 ribu per hari, sehingga kereta-kereta tua satu demi satu dipensiunkan untuk transportasi penumpang dan dialihkan untuk kargo. KRN bekerja sama dengan kelompok energi dan transportasi Alstom, mengimpor teknologi kereta api dari Prancis itu dan merancang model terbaru yang diberi nama G7. Diharapkan G7 tersebut bisa diekspor ke manca negara.
Untuk KTX, KRN akan mengoperasikan 46 unit. 12 di antaranya diimpor langsung dari Alstom dan 34 lainnya dirakit di Korea. Proyek tersebut merupakan hasil kerja sama yang ditandatangani pada 1994 antara Korsel dan Alstom. Perusahaan Prancis itu mengalahkan rivalnya Siemens (Jerman) dan Mitsubishi (Jepang) untuk memenangkan kontrak transportasi tersebut. "Saya yakin TGV di Korea ini akan meraih sukses secara teknis, komersial dan finansial. Dalam waktu yang tak lama, Korea akan meningkatkan kapasitasnya," jelas direktur teknis Tranportasi Alstom, Francois Lacote.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar