Selasa, 22 April 2014

TUGAS TEORI ORGANISASI UMUM 2 (MINGGU 2)

Pengambilan Keputusan Terberat Dalam Hidup.

 Assallamualaikum Warohmatullohi Wabarakattuh.

Dalam kesempatan kali ini saya ingin menulis tentang pengambilan keputusan terberat yang pernah terjadi dalam hidup saya. Semua orang pasti pernah mengalami pengambilan keputusan yang paling sulit dalam hidupnya. Karena keputusan yang nantinya akan menjadi pilihan akan berpengaruh besar untuk masa yang akan datang.

Saya sendiri pun pernah mengalaminya.Keputusan tereberat yang pernah saya alami adalah saat saya ingin masuk ke jenjang yang lebih tinggi yaitu masuk ke perguruan tinggi. Di sini saya harus berperang pendapat dengan orang tua saya. Karena orang tua pasti selalu ingin yang terbaik untuk anaknya, apalagi ini untuk masa depan anaknya. Disaat itu saya merasa kesal dengan diri saya sendiri, saya sedih karena kebodohan saya sendiri karena saya tidak bisa lulus dalam SNMPTN Undangan 2012. Karena kegagalan saya itu, lalu ayah saya memberikan pendapat untuk masuk ke perguruan tinggi swasta saja, kebetulan saat itu saya juga mendapatkan undangan beasiswa dari Universitas Gunadarma. Tapi entah mengapa saya selalu ingin menjadi mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (PTN), karena dulu pikiran saya masih terlalu labil saya berfikir PTN itu selain biaya kuliahnya yang terjangkau dengan pendapatan orang tua saya, nama label PTN selalu dipandang baik dengan masyarakat. Saat itu saya menuruti pendapat ayah saya untuk medaftar terlebih dahulu ke Universitas Gunadarma. Saat itu ayah saya sudah melakukan transaksi untuk pembayaran di kampus saya sekarang ini, tetapi hati saya masih belum stabil dan berkecamuk untuk tetap ingin mencoba lagi masuk PTN dengan jalur SNMPTN Ujian Tulis 2012, tetapi saya berfikir lagi jika saya ikut SNMPTN Ujian Tulis bagaimana bisa, karena saat itu saya tidak mengikuti les intensif atau semacamnya seperti teman-teman saya yang sibuk les intensif sana-sini sampai pulang sore. Sampai dirumah setelah pembayaran pendafaran di UG saya bilang ke ayah saya kalau saya ingin ikut SNPMTN Ujian Tulis. Lalu ayah saya merespon dengan ekspresi seperti tidak setuju “Loh kamu itu bagaimana? Barusan sudah dibayar uang muka di Gunadarma, kenapa sekarang berubah pikiran lagi mau ikut SNMPTN Ujian Tulis?” kata ayah saya. Tetapi saat itu saya ingin sekali masuk ke salah satu perguran tinggi negeri di kota Bogor, dan ayah saya juga tau kalau anaknya ingin sekali masuk ke PTN di kota Bogor tersebut, karena sebelumnya saya sudah gagal masuk ke PTN di kota Bogor tersebut melalui jalur SNMPTN Jalur Undangan, saya tetap ingin mencoba lagi masuk ke PTN tersebut. Lalu ayah saya pun menyetujui saya ikut SNMPTN Ujian Tulis 2012. Keesokannya pun ayah saya membelikan saya buku intensif SNMPTN untuk bekal tempur saya di SNPMTN Ujian Tulis. Dalam pengisian form SNPMTN Ujian Tulis 2012 saya memilih Ilmu Komunikasi IPB (Institut Pertanian Bogor) untuk prodi 1 dan FMIPA UNILA (Universitas Negeri Lampung) untuk prodi 2 . Dengan sedikit bekal, akhirnya saya menjalani SNMPTN Ujian Tulis 2012 dengan semaksimal kemampuan saya selama 2 hari.  Akhirnya waktu pengumuman hasil SNMPTN Ujian Tulis 2012 tiba, saat itu pengumuman harus dilihat melalui website SNMPTN, tetapi saat itu selalu bad connection karena terlalu banyak orang yang membuka situs website SNPMTN. Dengan susah payah saya membuka situ website SNMPTN tersebut, akhirnya saya bisa melihat hasil SNMPTN saya. “Selamat Anda Lulus SNMPTN Ujian Tulis 2012” membaca kalimat tersebut membuat saya senang, hanya saja saya masuk di prodi ke-2 yaitu FMIPA UNILA. Segera saya memberi tahu ke ayah saya kalau saya lolos SNMPTN, hanya ayah saya kurang setuju karena saya lulus di prodi 2 yaitu di Unila, Ayah saya kurang setuju karena itu di luar kota dan seberang pulau. Tetapi karena saya terlalu gegabah saya tetap ingin melanjutkan langkah saya untuk ke Unila karena saya sudah lolos SNMPTN kenapa harus di sia-siakan, lagi pula di Lampung ada nenek dan keluarga dari ibu saya walaupun tidak dekat dengan kampus Unila. Akhirnya saya mengikuti serangkaian langkah pendaftaran di Unila dengan ditemani paman saya karena ayah saya tidak bisa menemani saya melakukan pendaftaran seperti saat pendaftaran di UG sebab saat itu ayah saya sedang tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Tetapi saat di Lampung ayah saya setiap hari selalu menelfon dan sms saya untuk tetap pilih kuliah di UG saja karena dekat rumah dan keluarga. Sampai pernah ayah saya mengirim sms ke saya dengan kata-kata yang membuat saya menangis dan membuat saya galau. Saat di Lampung saya selalu ingat dengan wajah ayah saya dan selalu memikirkan ayah saya. Sampai jika saya selesai sholat dan berdoa pun yang terlintas pun wajah ayah saya saat beliau pulang kerja. Karena saat itu sedang bulan Ramadhan saya pulang ke Bekasi. Saat di Bekasi pun ayah saya menasihati lagi untuk lebih baik kuliah di Bekasi saja biar dekat dengan keluarga, ayah juga bilang “kalau kuliah disini kan makan enggak makan tetap kumpul sama keluarga” . Saat itu saya makin entah harus pilih dimana untuk kuliah, karena ini menentukan masa depan saya. Sungguh ini adalah situasi tersulit untuk memilih, lebih sulit dari soal-soal SNMPTN yang pernah saya kerjakan. Kalau saya pilih Unila, uang pendaftaran di UG akan kembali hanya saja dipotong sekitar 20% dan jika saya pilih UG , seluruh uang pendataran di Unila hangus, tetapi nominalnya sama dengan potongan 20% di UG. Jadi saya berfikir sama ruginya kalau saya pilih salah satunya. Lalu akhirnya saya memutuskan untuk pilih di UG, selain masukkan dari ayah , saya pun juga dapat masukkan dari teman-teman terdekat saya untuk tetap kuliah di Bekasi saja. Akhirnya saya pun memilih untuk mengikuti ayah saya yaitu kuliah di Universitas Gunadarma jurusan Sistem Informasi dan membatalkan kuliah di Unila. Saya pun tidak tahu sebenarnya apa yang dipelajari di jurusan SI. Secara basic pun saya minim dalam ilmu komputer karena saya berasal dari SMA jurusan IPA. Tapi saya selalu ingat orang tua dan Allah sebagai sumber kekuatan saya dan motivasi saya kalau saya pasti bisa walaupun saya harus keluar dari comfort zone jurusan saya. Dan alhamdulillah sampai saat ini kuliah saya lancar walaupun ada sedikit hambatan tapi saya jadikan hambatan tersebut batu kerikil kecil. Dan sekarang saya berfikir, kesuksesan seseorang bukan karena PTS ataupun PTN tapi itu berasal dari diri kita sendiri. Enggak semua PTN itu bagus dan berakreditasi sangat baik , dan enggak semua PTS itu enggak bagus dan berakreditasi buruk.

Cukup sekian tulisan saya kali ini tentang pengambilan terberat dalam hidup saya. Setiap manusia pasti pernah mengalami masalah tersebut, hanya saja cara memecahkan masalahnya yang berbeda. Mohon maaf apabila ada salah kata, karena manusia adalah tempatnya salah.


Wassallamualaikum Warohmattullohi Wabarakattuh...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar