Sabtu, 20 September 2014

FANFIC : I LOVE MY LECTURE (PART 2)



I Love My Lecture
by: Elsa Vitri

Main cast :
        Oh Sehun
         Oh Hayoung

Cast :
 D.O
                  Lee Dong Hae
                   Yuri (Kakak Sehun)



PART 2


“Apa masih ada pertanyaan?” tanya Hayoung pada mahasiswa di kelas matematika.
“baiklah apabila tidak ada kita akhiri pertemuan kita hari ini, sampai jumpa minggu depan dan jangan lupa tugas paper kalian dikumpulkan 3 hari lagi ke email-ku. Terimakasih.” Ucap Hayoung lalu mengecek laptop yang ada di atas meja dosen.
       Para mahasiswa pun satu persatu meninggalkan kelas matematika itu. Tiba-tiba, Sehun mendekat meja Hayoung yang sedang mengecek laptopnya. Hayoung pun menyadarinya apabila Sehun sedang berdiri di dekat mejanya.
Wae?” tanya Hayoung pada Sehun sambil melepas kacamata yang ia kenakan.
“Aku rasa aku tak bisa mengerjakan tugas mata kuliahmu.” Jawab Sehun sambil meletakannya telapak tangannya di atas meja dosen.
Wae?” tanya Hayoung yang bangkit dari tempat duduknya.
“Aku tak mengerti apa yang kau jelaskan tadi itu.” Jawab Sehun sambil memainkan jemarinya di atas meja dosen.
“Hmm bagaimana kalo kau memberikan privat kelas untukku?” tanya Sehun dengan senyum manis.
mwo?” tanya Hayoung sedikit terkejut.
Ne! Aku memang agak sulit dari dulu menerima pelajaran matematika, jadi bagaimana kalau kau mengajariku secara privat?”
“Apa kau tidak mencatat materi yang kuberikan tadi?” jawab Hayoung yang agak sedikit kesal sambil memasukkan laptop dan buku-buku ke dalam tas miliknya.
“aku mencatatnya.” Jawab Sehun santai.
“Ya sudah kau kan bisa belajar dari catatan materi yang aku berikan tadi, maaf aku masih ada urusan lain.” Jawab Hayoung lalu pergi meninggalkan Sehun hanya saja Sehun menarik tangan kiri Hayoung.
“apa lagi?” Tanya Hayoung sambil mencoba melepaskan tangan Sehun yang menggenggam lengannya.
Jebal!” Jawab Sehun sambil memasang muka memohon.
“Maaf aku tak bisa, tolong lepaskan.” Hayoung masih berusaha untuk melepaskan tangan Sehun yang belum melepaskan tangannya dari lengan Hayoung.
Lalu Sehun melepaskan genggamannya dari lengan Hayoung dan Hayoung pun pergi meninggalkan Sehun.
“Wah, dongsaeng itu benar-benar lucu kalu sedang panik.” Tutur Sehun dengan nada yang pelan dengan senyum meledeknya.

***


Hyung.” Sehun memanggil D.O sambil menepuk bahu D.O yang sedari tadi sudah menunggu Sehun di area luar gedung fakultas.
Ya! Kau darimana saja? Aku tak melihat kau keluar kelas bersamaku.” Jawab D.O dengan penasaran, D.O yang keluar kelas seorang diri ternyata tak sadar kalau dia tidak keluar bersama temannya itu.
“Tadi aku ke toilet dulu sebentar.” Jawab Sehun dengan alasan bohongnya.
Hyung, sepertinya hari ini aku tak bisa ke dorm untuk kumpul dengan member yang lainnya.” Ungkap Sehun sambil memegang bahu D.O .
Wae?” tanya D.O sambil mengernyitkan alisnya.
“Aku harus banyak belajar soal matematika, aku kurang paham dengan materi hari ini.” Jawab Sehun sambil mengelus alisnya.
“Aku bisa mengajarimu kalau kau masih kurang mengerti.” Jawab D.O dengan santai.
Anie hyung. Aku ingin mencoba memahaminya sendiri saja jadi kau tak perlu repot-repot mengajariku, kalau begitu aku pulang dulu Hyung.” Jawab Sehun sambil menepuk bahu D.O dan pergi meninggalkan D.O.
“Ada apa dengan bocah itu? Sepertinya dia tidak mengatakan yang sebenarnya.” Gumam D.O sambil mengernyitkan alisnya sebelah.

***


        Bel berbunyi nyaring di pintu apartemen Hayoung tinggal. Hayoung yang baru saja meletakkan tas nya di kursi pun segera menuju ke pintu apartemennya.
Hayoung pun membuka pintu apartemennya itu.
Annyeong kangsanim.” Sehun menyapa Hayoung  dari balik pintu yang telah terbuka.
“Mau apa kau kesini? Kau menguntitku ?” tanya Hayoung yang kaget melihat Sehun datang ke apartemennya.
“Memangnya kenapa kalau aku menguntitmu?” tanya Sehun dengan senyuman meledek.
“Kau ini benar-benar....” jawab Hayoung dengan nada yang kesal.
“Apa kau tak menyuruhku untuk masuk? Wah kau ini benar-benar dosen yang kejam terhadap mahasiswanya ya.”
Choayo.” Akhirnya Hayoung mengizinkan Sehun untuk masuk ke dalam apartemen tempat tinggalnya.
Sehun melihat-lihat sekeliling ruang tamu apartemen Hayoung, terdapat banyak piala dan piagam yang menghiasi ruang tamu apartemen Hayoung.
“Apa kau tinggal sendiri?” tanya Sehun yang masih sibuk melihat-lihat sekeliling ruang tamu apartemen Hayoung, lalu Sehun duduk di sofa dekat jendela besar dengan view balkon apartemen.
“Mau apa kau kesini?” Hayoung malah bertanya dan tidak menjawab pertanyaan Sehun.
“Apa kau tidak memberikan aku minuman selayaknya seorang tamu?” Sehun pun tak menjawab pertanyaan Hayoung, Sehun meletakkan tas punggungnya di sofa.
Aiiishh...jinjja.” keluh Hayoung sambil menatap Sehun dengan sinis lalu pergi ke kulkas untuk mengambil 2 minuman kaleng soft drink.
Hayoung meletakkan minuman kaleng tersebut di meja depan Sehun.
“Mau apa kau kesini?” tanya Hayoung dengan pertanyaan yang sama dan serius.
“Aku masih memberikanku penawaran untuk menjadi dosen privatku.” Jawab Sehun sambil meneguk minuman kaleng yang diberikan Hayoung.
“Kan sudah aku bilang aku tidak mau” jawab Hayoung dengan nada yang sedikit kesal.
"Baiklah kalau begitu aku akan bicara pada bagian akademik kampus kalau kau tidak bisa mengajari mahasiswanya secara benar agar kau dipecat, bagaimana?” ancam Sehun dengan nada yang santai.
“Kenapa kau jadi mengancamku?” tanya Hayoung.
“Aku tidak mengancam, aku hanya memberikan keluh kesahku sebagai mahasiswa universitas dongguk kalau dosen matematikaku tidak mengajar dengan benar makanya aku menjadi tidak mengerti.” Jawab Sehun dengan senyum meledeknya yang khas.
“Kalau aku ketahuan memberikanmu privat aku juga akan dipecat oleh pihak universitas.” Tutur Hayoung dengan sinis.
“ Kau kan memberikanku privat di luar jam kuliah, anggaplah kau ini sedang memberikan bimbingan belajar untukku, jadi cukup kau dan aku saja yang tahu, bagaimana?.” Tanya Sehun sambil meletakkan minuman kaleng ke atas meja yang berada di depannya.
Hayoung meneguk minuman kaleng yang dia pegang dan tak menjawab pertanyaan Sehun. Hayoung pun hanya menghela nafas setelah meneguk minuman kaleng yang ada di tangannya?
“Bagaimana?” tanya Sehun sambil menunggu Hayoung mengeluarkan jawabannya.
Hayoung pun menarik nafas lalu menghelanya sambil melihat ke arah Sehun.
Choayo.” Jawab Hayoung singkat.
Jinjjayo? Kau setuju?” tanya Sehun dengan ekspresi sangat bahagia mendengarkan jawaban dari Hayoung walaupun Hayoung hanya menjawab dengan singkat.
Eo.” Hayoung menjawab ya dengan informal kepada Sehun.
“ Kau serius kan? Kau tidak sedang bercanda kan?” tanya Sehun pada Hayoung sambil menyipitkan matanya yang sudah sipit itu.
“Kau ini! Apa aku terlihat seperti sedang bercanda, eung?” tanya Hayoung dengan sinis dan sedikit kesal.
Arasso.” Jawab Sehun dengan senyum yang lebar.
“hmm...mulai kapan aku bisa memulainya?” tanya Sehun sambil meraih ponselnya dari kantung celana jeansnya.
Hayoung terlihat seperti memikir menentukan hari.
“Aku hanya punya waktu kosong hari sabtu dan minggu saja.” Jawab Hayoung.
“Okee, bagaimana kalau aku memilih jadwalnya setiap sabtu malam, jam 8 malam?” tanya Sehun.
“Hmm...geurae.” jawab Hayoung lalu sambil meneguk minuman kaleng yang ada di tangannya lagi.
Geurae!” Ucap Sehun dengan gembira sambil membunyikan jarinya lalu mencatat jadwal privatnya di ponselnya.

***


        Sore itu langit sedikit gelap, suasana di kampus pun masih terbilang ramai. Sehun keluar dari kelas mata kuliah pada sore itu. Dia menengok kanan kiri di koridor gedung fakultas seperti mencari seseorang. Lalu dia mencoba menelpon seseorang dengan ponselnya yang sedari tadi sudah ia genggam.
Yeobseyo?” Sehun mulai membuka percakapan di telfon.
Yeobseyo.” Terdengar suara jawaban halo dari seberang sambungan telfon.
“Ya D.O hyung, kau dimana? Kenapa kau tidak mengikuti kelas sore ini.” Tanya Sehun pada D.O yang sedang dia hubungi sekarang.
Mianhe Sehunnie, hari ini aku ada janji dengan hyung-ku, dia sedang pulang dari sekolah tentaranya, jadi aku tidak bisa mengikuti kelas sore ini.” Jawab D.O
Eo geruraeyo? Baiklah kalau begitu, aku titip salam untuk hyung-mu.” Jawab Sehun sambil berjalan menuju parkiran mobil.
Geurae, akan aku sampaikan salammu ke hyung-ku.” Jawab D.O
“Okee, aku tutup dulu hyung telfonnya.” Sehun pun memutuskan sambungan telfonnya dengan D.O.
Sehun mulai meraih pintu mobil miliknya. Tiba-tiba Sehun melihat seorang yang sudah tidak asing lagi, sepertinya ia mengenalnya. Sehun melihat seseorang itu memasuki area gedung fakultas dirinya.
“Sepertinya aku kenal.” Tutur Sehun dengan nada yang pelan sambil mencoba mengingat seseorang yang sudah tidak asing tersebut.
“hmm...Donghae hyung? Apakah benar Donghae hyung” tanya Sehun pada diri sendiri dengan nada yang pelan sambil memegang bibirnya.
assshhh, sudahlah aku tak peduli.” Gumam Sehun lalu mulai masuk ke dalam mobilnya.
Sore itu mobil sehun bergerak cepat menuju dorm dimana tempat dia latihan bersama teman-teman member idol group nya.

***


         Bunyi bel pintu apartemen yang berdering nyaring membuat Hayoung segera bergegas menuju pintu apartemen tempat tinggalnya. Hayoung pun membuka pintu, dan murid privat Hayoung sudah datang. Sehun yang sedari tadi berdiri dengan membelakangi pintu apartemen Hayoung lalu segera membalikan badannya ke depan Hayoung saat mendengar pintu apartemen tempat tinggal Hayoung telah dibukakan oleh penghuninya.
Annyeong...Chingu.” sapa Sehun sambil melambaikan tangan kanannya pada Hayoung dan memberikan senyuman manis.
Hayoung pun tak menjawab sapaan Sehun dan tiba-tiba Hayoung menutup kembali pintu apartemen tempat tinggalnya.
Wae wae wae? Waeyo? Kenapa kau menutup pintunya lagi? Yaaaa Hayoung-ah!” tanya Sehun dari balik pintu apartemen yang ditutup kembali oleh Hayoung.
“Apa kau marah karena aku memanggilmu chingu? Lagi pula aku tidak sedang memanggilmu chingu di area kampus kan, eung?” tanya Sehun lagi sambil mengetuk pintu apartemen Hayoung.
Arasso arasso, aku tak akan memanggilmu dengan sebutan chingu lagi. Aku mohon bukakan pintunya, jebal.” Sehun masih tetap mengetuk pintu apartemen Hayoung.
Lalu pintu apartemen Hayoung pun terbuka lagi. Sehun pun segera membalas senyuman dengan spontan.
“Kau tau ini masih jam berapa?” tanya Hayoung
“jam 19.30.” jawab Sehun sambil melihat jam tangan yang terpasang tangan kirinya.
“jadwalmu jam 8 malam, bukan?” tanya Hayoung lagi sambil melipat tangan di depan dada.
“hmm...lihat itu ada apa di kakimu?” tanya Sehun dan Sehun pun segera menyelinap cepat bagai kilat untuk masuk ke dalam apartemen Hayoung. 
          Hayoung pun masih melihat ke arah kakinya tapi sepertinya tidak apa-apa di kaki Hayoung, dan Hayoung pun baru menyadari kalau Sehun baru saja mencoba membohonginya agar dia bisa masuk ke dalam apartemennya. Hayoung pun menutup pintu apartemennya dengan perasaan geram karena telah ditipu oleh Sehun.
Yaaa!” Bentak Hayoung sambil menepuk kepala bagian belakang Sehun.
Awww! Wae, eung?” Tanya Sehun sambil mengelus kepalanya yang baru saja ditepuk oleh Hayoung.
“Beraninya kau membohongiku.” Jawab Hayoung dengan kesal sambil memegang kedua pinggangnya.
“Jadi kau marah padaku, eung?” tanya Sehun sambil mendekat ke Hayoung lalu memberikan kedipan mata untuk Hayoung.
Sehun tersenyum melihat sikap Hayoung yang salah tingkah jadinya. Hayoung pun segera ke dapur untuk melanjutkan masaknya.
“Kau sedang apa?” tanya Sehun sambil meletakkan tas yang ia bawa ke sofa, lalu mendekat ke arah dapur Hayoung yang letak dapurnya tidak jauh dari ruang tamu. Hayoung pun tetap sibuk dengan masakan yang sedang ia buat dan tak sempat menjawab pertanyaan Sehun.
“Waw...kau masak spagheti?” tanya Sehun sambil melihat saus spagheti yang sedang dimasak Hayoung, dan Hayoung pun sedang sibuk meniriskan spagheti yang sudah matang dari dalam panci. Hayoung pun masih tidak menjawab pertanyaan Sehun, dia masih sibuk meniriskan spagheti yang sudah matang.
“Kau memasak spagheti sebanyak ini untuk siapa? Apakah untuk aku?” tanya Sehun yang sedang melihat Hayoung meniriskan spagheti yang sudah matang dengan percaya diri.
Aniya.” Jawab Hayoung dengan singkat.
“Lalu?” tanya Sehun pun dengan singkat.
“Aku ingin memberikannya sebagian untuk seseorang.” Jawab Hayoung yang sedang meletakkan panci kotor ke tempat pencucian piring.
“Seseorang?” tanya Sehun yang sedikit menjadi penasaran.
Ne.” Jawab Hayoung singkat sambil mencuci tangan dan melap tangannya yang basah.
“Apakah dia kekasihmu?” tanya Sehun dengan penasaran.
Hayoung pun tak menjawab pertanyaan Sehun, dia sedang sibuk ingin mengambil mangkuk besar dari lemari kitchen set bagian atas lalu mengambil bangku kecil di samping kulkas.
“Untuk apa bangku kecil itu?” Tanya Sehun yang sedari tadi melihat Hayoung yang sedang sibuk sambil melipat tangannya di depan dada.
“Aku ingin mengambil mangkuk besar dari atas sana.” Jawab Hayoung sambil menunjukan letak mangkuk besar itu berada dengan ekspresi wajahnya.
        Lalu Sehun pun  mencoba untuk membuka lemari kitchen set bagian atas. Beruntunglah Sehun memiliki tinggi badan yang terbilang tinggi, jadi dia tak perlu sebuah bangku untuk mengambil mangkuk yang ada di dalam lemari kitchen set bagian atas dapur apartemen Hayoung tersebut. Sehun meraih mangkuk kaca besar dari lemari kitchen set tersebut.
“Mangkuk ini kah?” tanya Sehun pada Hayoung sambil menunjukan mangkuk besar yang sedang dia ambil.
Tiba-tiba...
Praaaang........” terdengar suara pecahan mangkuk kaca besar yang diambil Sehun dari lemari kitchen set.
Dengan terkejut, Hayoung pun segera berlari ke arah Sehun yang terjatuh karena terpeleset air tumpahan rebusan spagheti yang membuat mangkuk kaca pun pecah terjatuh.
Gwenchanayo?” tanya Hayoung sambil melihat kaki Sehun yang sudah mengeluarkan darah lumayan banyak.
Gwenchana.” Jawab Sehun sambil mengangkat telapak tangan kirinya yang terdapat serpihan kaca dan darah.
“Bangunlah, aku akan mengobatimu.” Lalu Hayoung pun membantu Sehun untuk bangun dari lantai dan membantu untuk berjalan ke sofa ruang tamu.
Hayoung segera mengambil semangkuk besar air, handuk bersih, dan kotak obat-obatan dari lemari di sudut ruangan. Lalu mulai untuk mengobati luka-luka Sehun.
Awww...aigo.” teriak Sehun yang kesakitan karena lukanya sedang di bersihkan oleh Hayoung. Hayoung memulai membersihkan luka di bagian tangan Sehun karena banyak serpihan kaca yang menancap dan agak lebih parah dari luka di bagian kaki. Karena merasa sangat kesakitan, Sehun menarik tangannya yang sedang diobati oleh Hayoung.
“Tahanlah sebentar rasa sakitnya, kalau tidak segera diobati nanti tanganmu akan infeksi.” Jawab       Hayoung lalu mencoba untuk mengambil tangan Sehun untuk segera diobati kembali.
        Sehun hanya bisa menahan rasa sakit dari luka yang sedang diobati Hayoung tersebut, lalu tiba-tiba mata Sehun mengarah ke tangan kiri Hayoung yang sedang sibuk membersihkan luka Sehun dengan handuk yang sudah dicelupkan air hangat. Sehun melihat ada cincin emas putih yang melingkar di jari manis Hayoung yang mungil. Sehun pun merasa sepertinya dia sudah tidak asing lagi dengan cincin itu.
     Setelah Hayoung selesai membersihkan luka-luka Sehun, Hayoung mencoba membersihkan serpihan-serpihan mangkuk yang pecah di dapur tadi. Malam itu, Hayoung dan Sehun menikmati spagheti buatan Hayoung yang lezat. Wajah Sehun seperti memikirkan sesuatu setelah melihat cincin yang melingkar di jari manis Hayoung tadi. Hayoung yang melihat Sehun yang sedari tadi terus melamun, segera Hayoung membunyikan jarinya didepan mata Sehun. Sehun pun buyar dari lamunannya.
“ Sedari tadi kau terus melamun, wae? Apa kau masih merasa sakit? Apa otakmu juga ikutan terluka?” tanya Hayoung dengan penasaran dan sedikit meledek Sehun
Aniya, hanya sedikit perih saja.” Jawab Sehun sambil mengambil sumpit yang berada di samping piring spagheti miliknya.
Mokja! Mani moko! Mianhe sudah membuatmu terluka karena membantuku.” Ucap Hayoung dengan ekpresi wajah seperti orang yang bersalah.
Gwencanha, ini hanya luka ringan.” Jawab Sehun dengan santai sambil mengaduk saus spagheti dengan spaghetinya agar tercampur.
Gomapda, sudah menawarkanku makan malam.” Ucap Sehun setelah memasukkan spagheti ke dalam mulutnya.
Ne.” Jawab Hayoung dengan senyum yang manis. Hayoung sangat senang melihat Sehun yang lahap dengan spagheti buatannya.
“Baru kali ini aku mengajak seorang pria makan malam di apartemenku.” Tiba-tiba Hayoung membuat  pengakuan kepada Sehun.
Jinjjayo? Apakah sebelumnya tidak ada?” tanya Sehun yang tiba-tiba menghentikan makannya.
Ani, aku selalu makan malam sendirian semenjak aku tinggal sendiri dan menyewa apartemen ini.” Jawab Hayoung
“Kau sudah lama tinggal disini?” tanya Sehun yang mengambil segelas air putih di dekatnya.
“Aku tinggal disini semenjak aku menjadi seorang dosen, sebelumnya aku tinggal bersama ibuku dan adik perempuanku di Incheon.” Jawab Hayoung
“Kau sendiri? Apa kau tinggal di dorm manajemen mu?” tanya Hayoung pada Sehun yang sedang melahap spagheti.
Aniyo, aku tinggal di sebuah rumah bersama noona.” Jawab Sehun yang masih melahap spagheti.
O jinjja?” tanya Hayoung sambil melahap spagheti.
Eo.” Jawab Sehun lalu meneguk air putih.
       Udara di Seoul malam itu sangatlah bersahabat. Setelah selesai makan malam, Hayoung memulai kelas privatnya untuk Sehun. Sehun pun terlihat mengerti dengan materi yang diajarkan Hayoung malam itu, hanya saja ada pikiran yang mengganjal di kepala Sehun. Cincin yang melingkar di jari manis tangan kiri Hayoung membuat Sehun terkadang tidak fokus.

***


        Sehun membuka pintu rumahnya dan melepas sepatunya dan mengganti dengan sendal rumah. Sehun pun berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air putih. Sehun berjalan dengan sedikit pincang karena insiden di apartemen tadi sebelumnya Lalu Sehun melihat Yuri yang sedang mengambil segelas air putih juga.
Sehun-ah, apa kau juga baru datang?” tanya Yuri pada Sehun setelah meneguk segelas air putih, lalu berjalan menuju ke ruang tamu.
Eo.” Jawab Sehun sambil mengambil gelas lalu mengisinya dengan air putih. Setelah meneguk air putih, Sehun pun mengikuti kakaknya menuju ruang tamu.
“Apa kau sudah makan malam?” tanya Yuri pada Sehun.
Ne!” jawab Sehun singkat.
Lalu mata Sehun melihat ke arah sebucket bunga mawar bewarna violet yang ada di meja ruang tamu.
“Donghae yang memberikanku itu padaku.” Tutur Yuri yang sepertinya sudah mengerti pertanyaan dari mata Sehun.
Donghae hyung?” tanya Sehun pada noona-nya itu.
Ne.” Jawab Yuri dengan mengangguk dan mendekati bunga mawar bewarna violet tersebut.
Sehun berjalan mendekati kakaknya tersebut dan duduk di atas sofa
“Apa noona tidak tahu kalau Donghae hyung sudah memiliki kekasih?” tanya Sehun dengan serius.
“Kau tau darimana?” jawab Yuri dengan pertanyaan yang tidak ia percaya, dan senyum tidak yakin.
“Jadi noona belum melihatnya?” Tanya Sehun semakin serius
“Melihat apa? Apa maksudmu?” Yuri pun semakin bingung dengan pertanyaan adiknya itu tentang Donghae.
“Apa kau tidak melihat Donghae hyung mengenakan cincin emas putih di jari manis tangan kirinya?” tanya Sehun sambil menunjuk jari manisnya sebelah kiri.
Yuri pun tak menjawab pertanyaan Sehun. Sehun hanya melihat kakaknya yang sedang melamun setelah dia mengatakan tentang sebuah cincin yang dikenakan Donghae.
Choayo.” Sehun pun kemudian bangkit dari sofa yang ia duduki, lalu pergi ke kamarnya meninggalkan Yuri seorang diri di ruang tamu malam.
        Yuri pun hanya terdiam dan berfikir apakah benar yang dikatakan Sehun? Yuri pun bertanya-tanya pada diri sendiri mengapa dia tidak menyadarinya selama ini?
“Cincin?” ucap Yuri dengan nada yang pelan lalu mengarahkan matanya menuju sebucket mawar cantik bewarna violet yang diberikan Donghae pada saat makan malam bersamanya tadi.



( Continue to Part 3 )


Noted:  My fanfic story just fiction and not real. This is just pure my imagination. So please don't bash the man's cast or women's cast if you don't like it, and please don't be copycat, okay (: ]

1 komentar:

  1. wah ditunggu part 3 nya kak :D nah jangan-jangan donghae sama hayoung udah tunangan ? O.O tapi kata hayoung 'dia belum pernah makan malam bareng berdua bersama laki-laki di apartemennya, yang pertama sama sehun :) oh penasaran sama kelanjutan ceritanya. semangat lanjutkan ff ini ya kak :)

    BalasHapus