I
Love My Lecture
by: Elsa Vitri
Main
cast :
Oh Sehun
Oh Hayoung
Cast
:
D.O
Lee Dong Hae
Yuri (Kakak Sehun)
PART 2
“Apa masih ada pertanyaan?” tanya Hayoung pada
mahasiswa di kelas matematika.
“baiklah apabila tidak ada kita akhiri pertemuan kita
hari ini, sampai jumpa minggu depan dan jangan lupa tugas paper kalian
dikumpulkan 3 hari lagi ke email-ku. Terimakasih.” Ucap Hayoung lalu mengecek
laptop yang ada di atas meja dosen.
Para mahasiswa pun satu persatu meninggalkan kelas
matematika itu. Tiba-tiba, Sehun mendekat meja Hayoung yang sedang mengecek
laptopnya. Hayoung pun menyadarinya apabila Sehun sedang berdiri di dekat
mejanya.
“Wae?” tanya Hayoung pada Sehun sambil melepas
kacamata yang ia kenakan.
“Aku rasa aku tak bisa mengerjakan tugas mata
kuliahmu.” Jawab Sehun sambil meletakannya telapak tangannya di atas meja
dosen.
“Wae?” tanya Hayoung yang bangkit dari tempat
duduknya.
“Aku tak mengerti apa yang kau jelaskan tadi itu.”
Jawab Sehun sambil memainkan jemarinya di atas meja dosen.
“Hmm bagaimana kalo kau memberikan privat kelas
untukku?” tanya Sehun dengan senyum manis.
“mwo?” tanya Hayoung sedikit terkejut.
“Ne! Aku memang agak sulit dari dulu menerima
pelajaran matematika, jadi bagaimana kalau kau mengajariku secara privat?”
“Apa kau tidak mencatat materi yang kuberikan tadi?”
jawab Hayoung yang agak sedikit kesal sambil memasukkan laptop dan buku-buku ke
dalam tas miliknya.
“aku mencatatnya.” Jawab Sehun santai.
“Ya sudah kau kan bisa belajar dari catatan materi
yang aku berikan tadi, maaf aku masih ada urusan lain.” Jawab Hayoung lalu
pergi meninggalkan Sehun hanya saja Sehun menarik tangan kiri Hayoung.
“apa lagi?” Tanya Hayoung sambil mencoba melepaskan
tangan Sehun yang menggenggam lengannya.
“Jebal!” Jawab Sehun sambil memasang muka
memohon.
“Maaf aku tak bisa, tolong lepaskan.” Hayoung masih
berusaha untuk melepaskan tangan Sehun yang belum melepaskan tangannya dari
lengan Hayoung.
Lalu Sehun melepaskan genggamannya dari lengan Hayoung
dan Hayoung pun pergi meninggalkan Sehun.
“Wah, dongsaeng itu benar-benar lucu kalu
sedang panik.” Tutur Sehun dengan nada yang pelan dengan senyum meledeknya.
***
“Hyung.” Sehun memanggil D.O sambil menepuk
bahu D.O yang sedari tadi sudah menunggu Sehun di area luar gedung fakultas.
“Ya! Kau darimana saja? Aku tak melihat kau
keluar kelas bersamaku.” Jawab D.O dengan penasaran, D.O yang keluar kelas
seorang diri ternyata tak sadar kalau dia tidak keluar bersama temannya itu.
“Tadi aku ke toilet dulu sebentar.” Jawab Sehun dengan
alasan bohongnya.
“Hyung, sepertinya hari ini aku tak bisa ke dorm
untuk kumpul dengan member yang lainnya.” Ungkap Sehun sambil memegang bahu D.O
.
“Wae?” tanya D.O sambil mengernyitkan alisnya.
“Aku harus banyak belajar soal matematika, aku kurang
paham dengan materi hari ini.” Jawab Sehun sambil mengelus alisnya.
“Aku bisa mengajarimu kalau kau masih kurang
mengerti.” Jawab D.O dengan santai.
“Anie hyung. Aku ingin mencoba memahaminya sendiri
saja jadi kau tak perlu repot-repot mengajariku, kalau begitu aku pulang dulu Hyung.”
Jawab Sehun sambil menepuk bahu D.O dan pergi meninggalkan D.O.
“Ada apa dengan bocah itu? Sepertinya dia tidak
mengatakan yang sebenarnya.” Gumam D.O sambil mengernyitkan alisnya sebelah.
***
Bel berbunyi nyaring di pintu apartemen Hayoung
tinggal. Hayoung yang baru saja meletakkan tas nya di kursi pun segera menuju
ke pintu apartemennya.
Hayoung pun membuka pintu apartemennya itu.
“Annyeong kangsanim.” Sehun menyapa
Hayoung dari balik pintu yang telah
terbuka.
“Mau apa kau kesini? Kau menguntitku ?” tanya Hayoung
yang kaget melihat Sehun datang ke apartemennya.
“Memangnya kenapa kalau aku menguntitmu?” tanya Sehun
dengan senyuman meledek.
“Kau ini benar-benar....” jawab Hayoung dengan nada
yang kesal.
“Apa kau tak menyuruhku untuk masuk? Wah kau ini
benar-benar dosen yang kejam terhadap mahasiswanya ya.”
“Choayo.” Akhirnya Hayoung mengizinkan Sehun
untuk masuk ke dalam apartemen tempat tinggalnya.
Sehun melihat-lihat sekeliling ruang tamu apartemen
Hayoung, terdapat banyak piala dan piagam yang menghiasi ruang tamu apartemen
Hayoung.
“Apa kau tinggal sendiri?” tanya Sehun yang masih
sibuk melihat-lihat sekeliling ruang tamu apartemen Hayoung, lalu Sehun duduk
di sofa dekat jendela besar dengan view balkon apartemen.
“Mau apa kau kesini?” Hayoung malah bertanya dan tidak
menjawab pertanyaan Sehun.
“Apa kau tidak memberikan aku minuman selayaknya
seorang tamu?” Sehun pun tak menjawab pertanyaan Hayoung, Sehun meletakkan tas
punggungnya di sofa.
“Aiiishh...jinjja.” keluh Hayoung sambil
menatap Sehun dengan sinis lalu pergi ke kulkas untuk mengambil 2 minuman
kaleng soft drink.
Hayoung meletakkan minuman kaleng tersebut di meja
depan Sehun.
“Mau apa kau kesini?” tanya Hayoung dengan pertanyaan
yang sama dan serius.
“Aku masih memberikanku penawaran untuk menjadi dosen
privatku.” Jawab Sehun sambil meneguk minuman kaleng yang diberikan Hayoung.
“Kan sudah aku bilang aku tidak mau” jawab Hayoung
dengan nada yang sedikit kesal.
"Baiklah kalau begitu aku akan bicara pada bagian
akademik kampus kalau kau tidak bisa mengajari mahasiswanya secara benar agar
kau dipecat, bagaimana?” ancam Sehun dengan nada yang santai.
“Kenapa kau jadi mengancamku?” tanya Hayoung.
“Aku tidak mengancam, aku hanya memberikan keluh
kesahku sebagai mahasiswa universitas dongguk kalau dosen matematikaku tidak
mengajar dengan benar makanya aku menjadi tidak mengerti.” Jawab Sehun dengan
senyum meledeknya yang khas.
“Kalau aku ketahuan memberikanmu privat aku juga akan
dipecat oleh pihak universitas.” Tutur Hayoung dengan sinis.
“ Kau kan memberikanku privat di luar jam kuliah,
anggaplah kau ini sedang memberikan bimbingan belajar untukku, jadi cukup kau
dan aku saja yang tahu, bagaimana?.” Tanya Sehun sambil meletakkan minuman
kaleng ke atas meja yang berada di depannya.
Hayoung meneguk minuman kaleng yang dia pegang dan tak
menjawab pertanyaan Sehun. Hayoung pun hanya menghela nafas setelah meneguk
minuman kaleng yang ada di tangannya?
“Bagaimana?” tanya Sehun sambil menunggu Hayoung
mengeluarkan jawabannya.
Hayoung pun menarik nafas lalu menghelanya sambil
melihat ke arah Sehun.
“Choayo.” Jawab Hayoung singkat.
“Jinjjayo? Kau setuju?” tanya Sehun dengan
ekspresi sangat bahagia mendengarkan jawaban dari Hayoung walaupun Hayoung
hanya menjawab dengan singkat.
“Eo.” Hayoung menjawab ya dengan informal
kepada Sehun.
“ Kau serius kan? Kau tidak sedang bercanda kan?”
tanya Sehun pada Hayoung sambil menyipitkan matanya yang sudah sipit itu.
“Kau ini! Apa aku terlihat seperti sedang bercanda, eung?”
tanya Hayoung dengan sinis dan sedikit kesal.
“Arasso.” Jawab Sehun dengan senyum yang lebar.
“hmm...mulai kapan aku bisa memulainya?” tanya Sehun
sambil meraih ponselnya dari kantung celana jeansnya.
Hayoung terlihat seperti memikir menentukan hari.
“Aku hanya punya waktu kosong hari sabtu dan minggu
saja.” Jawab Hayoung.
“Okee, bagaimana kalau aku memilih jadwalnya setiap
sabtu malam, jam 8 malam?” tanya Sehun.
“Hmm...geurae.” jawab Hayoung lalu sambil
meneguk minuman kaleng yang ada di tangannya lagi.
“Geurae!” Ucap Sehun dengan gembira sambil
membunyikan jarinya lalu mencatat jadwal privatnya di ponselnya.
***
Sore itu langit sedikit gelap, suasana di kampus pun
masih terbilang ramai. Sehun keluar dari kelas mata kuliah pada sore itu. Dia
menengok kanan kiri di koridor gedung fakultas seperti mencari seseorang. Lalu
dia mencoba menelpon seseorang dengan ponselnya yang sedari tadi sudah ia
genggam.
“Yeobseyo?” Sehun mulai membuka percakapan di
telfon.
“Yeobseyo.” Terdengar suara jawaban halo dari
seberang sambungan telfon.
“Ya D.O hyung, kau dimana? Kenapa kau tidak
mengikuti kelas sore ini.” Tanya Sehun pada D.O yang sedang dia hubungi
sekarang.
“Mianhe Sehunnie, hari ini aku ada janji dengan
hyung-ku, dia sedang pulang dari sekolah tentaranya, jadi aku tidak bisa
mengikuti kelas sore ini.” Jawab D.O
“Eo geruraeyo? Baiklah kalau begitu, aku titip
salam untuk hyung-mu.” Jawab Sehun sambil berjalan menuju parkiran
mobil.
“Geurae, akan aku sampaikan salammu ke hyung-ku.”
Jawab D.O
“Okee, aku tutup dulu hyung telfonnya.” Sehun
pun memutuskan sambungan telfonnya dengan D.O.
Sehun mulai meraih pintu mobil miliknya. Tiba-tiba
Sehun melihat seorang yang sudah tidak asing lagi, sepertinya ia mengenalnya.
Sehun melihat seseorang itu memasuki area gedung fakultas dirinya.
“Sepertinya aku kenal.” Tutur Sehun dengan nada yang
pelan sambil mencoba mengingat seseorang yang sudah tidak asing tersebut.
“hmm...Donghae hyung? Apakah benar Donghae hyung”
tanya Sehun pada diri sendiri dengan nada yang pelan sambil memegang bibirnya.
“assshhh, sudahlah aku tak peduli.” Gumam Sehun
lalu mulai masuk ke dalam mobilnya.
Sore itu mobil sehun bergerak cepat menuju dorm dimana
tempat dia latihan bersama teman-teman member idol group nya.
***
Bunyi bel pintu apartemen yang berdering nyaring
membuat Hayoung segera bergegas menuju pintu apartemen tempat tinggalnya.
Hayoung pun membuka pintu, dan murid privat Hayoung sudah datang. Sehun yang
sedari tadi berdiri dengan membelakangi pintu apartemen Hayoung lalu segera
membalikan badannya ke depan Hayoung saat mendengar pintu apartemen tempat
tinggal Hayoung telah dibukakan oleh penghuninya.
“Annyeong...Chingu.” sapa Sehun sambil
melambaikan tangan kanannya pada Hayoung dan memberikan senyuman manis.
Hayoung pun tak menjawab sapaan Sehun dan tiba-tiba
Hayoung menutup kembali pintu apartemen tempat tinggalnya.
“Wae wae wae? Waeyo? Kenapa kau menutup
pintunya lagi? Yaaaa Hayoung-ah!” tanya Sehun dari balik pintu apartemen
yang ditutup kembali oleh Hayoung.
“Apa kau marah karena aku memanggilmu chingu?
Lagi pula aku tidak sedang memanggilmu chingu di area kampus kan, eung?”
tanya Sehun lagi sambil mengetuk pintu apartemen Hayoung.
“Arasso arasso, aku tak akan memanggilmu dengan
sebutan chingu lagi. Aku mohon bukakan pintunya, jebal.” Sehun
masih tetap mengetuk pintu apartemen Hayoung.
Lalu pintu apartemen Hayoung pun terbuka lagi. Sehun
pun segera membalas senyuman dengan spontan.
“Kau tau ini masih jam berapa?” tanya Hayoung
“jam 19.30.” jawab Sehun sambil melihat jam tangan yang
terpasang tangan kirinya.
“jadwalmu jam 8 malam, bukan?” tanya Hayoung lagi sambil
melipat tangan di depan dada.
“hmm...lihat itu ada apa di kakimu?” tanya Sehun dan
Sehun pun segera menyelinap cepat bagai kilat untuk masuk ke dalam apartemen
Hayoung.
Hayoung pun masih melihat ke arah kakinya tapi sepertinya tidak apa-apa di kaki Hayoung, dan Hayoung pun baru menyadari kalau Sehun baru saja mencoba membohonginya agar dia bisa masuk ke dalam apartemennya. Hayoung pun menutup pintu apartemennya dengan perasaan geram karena telah ditipu oleh Sehun.
Hayoung pun masih melihat ke arah kakinya tapi sepertinya tidak apa-apa di kaki Hayoung, dan Hayoung pun baru menyadari kalau Sehun baru saja mencoba membohonginya agar dia bisa masuk ke dalam apartemennya. Hayoung pun menutup pintu apartemennya dengan perasaan geram karena telah ditipu oleh Sehun.
“Yaaa!” Bentak Hayoung sambil menepuk kepala
bagian belakang Sehun.
“Awww! Wae, eung?” Tanya Sehun sambil mengelus
kepalanya yang baru saja ditepuk oleh Hayoung.
“Beraninya kau membohongiku.” Jawab Hayoung dengan kesal
sambil memegang kedua pinggangnya.
“Jadi kau marah padaku, eung?” tanya Sehun
sambil mendekat ke Hayoung lalu memberikan kedipan mata untuk Hayoung.
Sehun tersenyum melihat sikap Hayoung yang salah
tingkah jadinya. Hayoung pun segera ke dapur untuk melanjutkan masaknya.
“Kau sedang apa?” tanya Sehun sambil meletakkan tas
yang ia bawa ke sofa, lalu mendekat ke arah dapur Hayoung yang letak dapurnya
tidak jauh dari ruang tamu. Hayoung pun tetap sibuk dengan masakan yang sedang
ia buat dan tak sempat menjawab pertanyaan Sehun.
“Waw...kau masak spagheti?” tanya Sehun sambil melihat
saus spagheti yang sedang dimasak Hayoung, dan Hayoung pun sedang sibuk
meniriskan spagheti yang sudah matang dari dalam panci. Hayoung pun masih tidak
menjawab pertanyaan Sehun, dia masih sibuk meniriskan spagheti yang sudah
matang.
“Kau memasak spagheti sebanyak ini untuk siapa? Apakah
untuk aku?” tanya Sehun yang sedang melihat Hayoung meniriskan spagheti yang
sudah matang dengan percaya diri.
“Aniya.” Jawab Hayoung dengan singkat.
“Lalu?” tanya Sehun pun dengan singkat.
“Aku ingin memberikannya sebagian untuk seseorang.”
Jawab Hayoung yang sedang meletakkan panci kotor ke tempat pencucian piring.
“Seseorang?” tanya Sehun yang sedikit menjadi
penasaran.
“Ne.” Jawab Hayoung singkat sambil mencuci
tangan dan melap tangannya yang basah.
“Apakah dia kekasihmu?” tanya Sehun dengan penasaran.
Hayoung pun tak menjawab pertanyaan Sehun, dia sedang
sibuk ingin mengambil mangkuk besar dari lemari kitchen set bagian atas lalu mengambil
bangku kecil di samping kulkas.
“Untuk apa bangku kecil itu?” Tanya Sehun yang sedari
tadi melihat Hayoung yang sedang sibuk sambil melipat tangannya di depan dada.
“Aku ingin mengambil mangkuk besar dari atas sana.”
Jawab Hayoung sambil menunjukan letak mangkuk besar itu berada dengan ekspresi
wajahnya.
Lalu Sehun pun
mencoba untuk membuka lemari kitchen set bagian atas. Beruntunglah Sehun
memiliki tinggi badan yang terbilang tinggi, jadi dia tak perlu sebuah bangku
untuk mengambil mangkuk yang ada di dalam lemari kitchen set bagian atas dapur
apartemen Hayoung tersebut. Sehun meraih mangkuk kaca besar dari lemari kitchen
set tersebut.
“Mangkuk ini kah?” tanya Sehun pada Hayoung sambil
menunjukan mangkuk besar yang sedang dia ambil.
Tiba-tiba...
“Praaaang........” terdengar suara pecahan
mangkuk kaca besar yang diambil Sehun dari lemari kitchen set.
Dengan terkejut, Hayoung pun segera berlari ke arah
Sehun yang terjatuh karena terpeleset air tumpahan rebusan spagheti yang
membuat mangkuk kaca pun pecah terjatuh.
“Gwenchanayo?” tanya Hayoung sambil melihat
kaki Sehun yang sudah mengeluarkan darah lumayan banyak.
“Gwenchana.” Jawab Sehun sambil mengangkat
telapak tangan kirinya yang terdapat serpihan kaca dan darah.
“Bangunlah, aku akan mengobatimu.” Lalu Hayoung pun
membantu Sehun untuk bangun dari lantai dan membantu untuk berjalan ke sofa
ruang tamu.
Hayoung segera mengambil semangkuk besar air, handuk
bersih, dan kotak obat-obatan dari lemari di sudut ruangan. Lalu mulai untuk
mengobati luka-luka Sehun.
“Awww...aigo.” teriak Sehun yang kesakitan
karena lukanya sedang di bersihkan oleh Hayoung. Hayoung memulai membersihkan
luka di bagian tangan Sehun karena banyak serpihan kaca yang menancap dan agak
lebih parah dari luka di bagian kaki. Karena merasa sangat kesakitan, Sehun
menarik tangannya yang sedang diobati oleh Hayoung.
“Tahanlah sebentar rasa sakitnya, kalau tidak segera
diobati nanti tanganmu akan infeksi.” Jawab Hayoung lalu mencoba untuk
mengambil tangan Sehun untuk segera diobati kembali.
Sehun hanya bisa menahan rasa sakit dari luka yang
sedang diobati Hayoung tersebut, lalu tiba-tiba mata Sehun mengarah ke tangan
kiri Hayoung yang sedang sibuk membersihkan luka Sehun dengan handuk yang sudah
dicelupkan air hangat. Sehun melihat ada cincin emas putih yang melingkar di
jari manis Hayoung yang mungil. Sehun pun merasa sepertinya dia sudah tidak
asing lagi dengan cincin itu.
Setelah Hayoung selesai membersihkan luka-luka Sehun,
Hayoung mencoba membersihkan serpihan-serpihan mangkuk yang pecah di dapur
tadi. Malam itu, Hayoung dan Sehun menikmati spagheti buatan Hayoung yang
lezat. Wajah Sehun seperti memikirkan sesuatu setelah melihat cincin yang
melingkar di jari manis Hayoung tadi. Hayoung yang melihat Sehun yang sedari
tadi terus melamun, segera Hayoung membunyikan jarinya didepan mata Sehun.
Sehun pun buyar dari lamunannya.
“ Sedari tadi kau terus melamun, wae? Apa kau
masih merasa sakit? Apa otakmu juga ikutan terluka?” tanya Hayoung dengan
penasaran dan sedikit meledek Sehun
“Aniya, hanya sedikit perih saja.” Jawab Sehun
sambil mengambil sumpit yang berada di samping piring spagheti miliknya.
“Mokja! Mani moko! Mianhe sudah membuatmu
terluka karena membantuku.” Ucap Hayoung dengan ekpresi wajah seperti orang
yang bersalah.
“Gwencanha, ini hanya luka ringan.” Jawab Sehun
dengan santai sambil mengaduk saus spagheti dengan spaghetinya agar tercampur.
“Gomapda, sudah menawarkanku makan malam.” Ucap
Sehun setelah memasukkan spagheti ke dalam mulutnya.
“Ne.” Jawab Hayoung dengan senyum yang manis.
Hayoung sangat senang melihat Sehun yang lahap dengan spagheti buatannya.
“Baru kali ini aku mengajak seorang pria makan malam
di apartemenku.” Tiba-tiba Hayoung membuat
pengakuan kepada Sehun.
“Jinjjayo? Apakah sebelumnya tidak ada?” tanya
Sehun yang tiba-tiba menghentikan makannya.
“Ani, aku selalu makan malam sendirian semenjak
aku tinggal sendiri dan menyewa apartemen ini.” Jawab Hayoung
“Kau sudah lama tinggal disini?” tanya Sehun yang
mengambil segelas air putih di dekatnya.
“Aku tinggal disini semenjak aku menjadi seorang
dosen, sebelumnya aku tinggal bersama ibuku dan adik perempuanku di Incheon.” Jawab
Hayoung
“Kau sendiri? Apa kau tinggal di dorm manajemen
mu?” tanya Hayoung pada Sehun yang sedang melahap spagheti.
“Aniyo, aku tinggal di sebuah rumah bersama noona.”
Jawab Sehun yang masih melahap spagheti.
“O jinjja?” tanya Hayoung sambil melahap
spagheti.
“Eo.” Jawab Sehun lalu meneguk air putih.
Udara di Seoul malam itu sangatlah bersahabat. Setelah
selesai makan malam, Hayoung memulai kelas privatnya untuk Sehun. Sehun pun
terlihat mengerti dengan materi yang diajarkan Hayoung malam itu, hanya saja
ada pikiran yang mengganjal di kepala Sehun. Cincin yang melingkar di jari
manis tangan kiri Hayoung membuat Sehun terkadang tidak fokus.
***
Sehun membuka pintu rumahnya dan melepas sepatunya dan
mengganti dengan sendal rumah. Sehun pun berjalan menuju dapur untuk mengambil
segelas air putih. Sehun berjalan dengan sedikit pincang karena insiden di apartemen tadi sebelumnya Lalu Sehun melihat Yuri yang sedang mengambil segelas air putih
juga.
“Sehun-ah, apa kau juga baru datang?” tanya
Yuri pada Sehun setelah meneguk segelas air putih, lalu berjalan menuju ke
ruang tamu.
“Eo.” Jawab Sehun sambil mengambil gelas lalu
mengisinya dengan air putih. Setelah meneguk air putih, Sehun pun mengikuti
kakaknya menuju ruang tamu.
“Apa kau sudah makan malam?” tanya Yuri pada Sehun.
“Ne!” jawab Sehun singkat.
Lalu mata Sehun melihat ke arah sebucket bunga mawar
bewarna violet yang ada di meja ruang tamu.
“Donghae yang memberikanku itu padaku.” Tutur Yuri
yang sepertinya sudah mengerti pertanyaan dari mata Sehun.
“Donghae hyung?” tanya Sehun pada noona-nya
itu.
“Ne.” Jawab Yuri dengan mengangguk dan
mendekati bunga mawar bewarna violet tersebut.
Sehun berjalan mendekati kakaknya tersebut dan duduk
di atas sofa
“Apa noona tidak tahu kalau Donghae hyung
sudah memiliki kekasih?” tanya Sehun dengan serius.
“Kau tau darimana?” jawab Yuri dengan pertanyaan yang
tidak ia percaya, dan senyum tidak yakin.
“Jadi noona belum melihatnya?” Tanya Sehun
semakin serius
“Melihat apa? Apa maksudmu?” Yuri pun semakin bingung
dengan pertanyaan adiknya itu tentang Donghae.
“Apa kau tidak melihat Donghae hyung mengenakan
cincin emas putih di jari manis tangan kirinya?” tanya Sehun sambil menunjuk
jari manisnya sebelah kiri.
Yuri pun tak menjawab pertanyaan Sehun. Sehun hanya
melihat kakaknya yang sedang melamun setelah dia mengatakan tentang sebuah
cincin yang dikenakan Donghae.
“Choayo.” Sehun pun kemudian bangkit dari sofa
yang ia duduki, lalu pergi ke kamarnya meninggalkan Yuri seorang diri di ruang
tamu malam.
Yuri pun hanya terdiam dan berfikir apakah benar yang
dikatakan Sehun? Yuri pun bertanya-tanya pada diri sendiri mengapa dia tidak
menyadarinya selama ini?
“Cincin?” ucap Yuri dengan nada yang pelan lalu mengarahkan
matanya menuju sebucket mawar cantik bewarna violet yang diberikan Donghae pada
saat makan malam bersamanya tadi.
( Continue to Part 3 )
[ Noted: My fanfic story just fiction and not real. This is just pure my imagination. So please don't bash the man's cast or women's cast if you don't like it, and please don't be copycat, okay (: ]

wah ditunggu part 3 nya kak :D nah jangan-jangan donghae sama hayoung udah tunangan ? O.O tapi kata hayoung 'dia belum pernah makan malam bareng berdua bersama laki-laki di apartemennya, yang pertama sama sehun :) oh penasaran sama kelanjutan ceritanya. semangat lanjutkan ff ini ya kak :)
BalasHapus